Monday, May 31, 2010

Bentuk-bentuk Ketidak Adilan Gender

Bentuk-bentuk Ketidak Adilan Gender

Marjinalisasi atau Pemiskinan
Suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan atau laki-laki. Hal ini nampak pada film film yang menggabarkan banyak para kaum lelaki menjadi pemimpin perusahaan menjadi eksmud. Dan sebaliknya banyak para wanita yang digambarkn sebagi pembantu rumah tangga TKW ataupun pengemis, sebenarnya secra tidak langsung membedakan dan mentidak adilkan gender, hal yang lebih mengecewakan ialah para wanita tidak merasa di tindas.


Subordinasi atau penomorduaan
Ialah Sikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki dibangun atas dasar keyakinan satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding yang lain. Ini mempunyai pendapat bahwa lelaki mempunyai lebih unggul. Hal ini berkeyakinan bahwa kalu ada laki laki kenapa harus perempuan. Fenomena ini sering terjadi dalam film, yaitu ketika peran eksmudd yang selalu di perankan oleh pria, jika ada wanita yang berperan seebagai eksmud pastilah dia akan bermasalah dan selalu tidak sesukses pria. Sebenarnya hal ini memag tidak terlalu bnyak di perhitungkan karena ini seperti menyutikan racun pada tubuh. Sedikit sedikit media (film) mengkonstruk budaya pria selalu didepan.

Stereotype
Suatu sikap negatif masyarakat terhadap perempuan yang membuat posisi perempuan selalu pada pihak yang dirugikan. Setreotipe ini biasa juga menjadi pedoman atau norma yang secara tidak lagsung diterapkan oleh berbagai masyarakat. Contoh streotipe ialah wanita perokok itu dianggap pelacur, ppadahal belum tentu ia pelacur pandangan yang seperti inilh yang selalu menyudutkan kaum wanita.  Semenjak adanya pandangan mengenai streotipe ini menjadiakn suatu belenggu pada kaum wanita.


Bias-bias gender yang terjadi tersebut tidak dapat dihilangkan dengan mudah, begitu pula tidak dapat dilawan secara langsung oleh berbagai macam pergerakan yang ada, hal tersebut terjadi karena beberapa hal, antara lain:

1).Khalayak belum sadar secara penuh bahwa mereka hidup dalam dunia kapitalisme global yang merujuk pada ‘penindasan’ dan ‘penjajahan’. Hal tesrebut sejalan dengan pandangan teori kritis yang mengatakan bahwa dalam kehidupannya, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari ‘penindasan’ maupun ‘penjajahan’. Dalam hal ini, penjajahan bukanlah dilakukan secara fisik, melainkan dalam bentuk pemikiran dan pandangan yang dianggap wajar oleh masyarakat (doktrinasi).
2).Tidak adanya keberanian untuk ‘memberontak’ dari sekelompok masyarakat yang telah sadar bahwa kehidupannya selama ini masih terjajah. Membutuhkan keberanian dan tekad yang luar biasa besar untuk dapat merombak pola pikir masyarakat yang telah turun-temurun diwariskan. Tentunya resiko berat yang menghadang bagi mereka yang berani mencoba untuk melanggar pantangan, telah menanti. Namun tidak ada jalan lain bagi kita untuk dapat merombak pola pikir masyarakat selain mendobrak apa yang mereka anggap tabu.
3).Kurangnya wadah yang menampung berbagai macam aspirasi secara keseluruhan tanpa memandang daerah, profesi, usia, suku bangsa, agama maupun golongan. Walaupun telah muncul berbagai macam LSM maupun lembaga yang menaungi hak perempuan atau yang lain, lembaga-lembaga tersebut tetap tidak dapat berkembang sesuai adanya dikarenakan adanya berbagai peraturan yang mengatur maupun terdapat berbagai macam factor lainnya.
Belum adanya tindakan nyata oleh masyarakat untuk menangkal bias-bias diskriminasi gender dalam kehidupan sosial masyarakat, menyebabkan munculnya beberapa pengaruh atau dampak yang masih bisa kita lihat dan rasakan sampai saat ini,
4).Terdapat pembedaan persepsi tentang sifat dan peranan pria dan wanita yang sudah terlanjur diterima secara wajar dan dianggap benar oleh masyarakat, dimana hal tersebut masih bersifat timpang tindih dan mengandung bias-bias gender dalam kehidupan masyarakat.
5).Munculnya anggapan dari sebagian kelompok yang menganggap bahwa wanita adalah makhluk sekunder dalam kehidupan sosial masyarakat, hal tersebut tampak dalam berbagai adapt istiadat maupun kebudayaan yang dimiliki oleh berbagai macam suku bangsa yang tersebar

0 comments:

Post a Comment

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2012 Mathedu Unila is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot